Menyemai Pembaruan di Bumi Raja: Sejarah Lengkap Perkembangan PCM Imogiri Bantul
Oleh: Sejarawan Muhammadiyah
Kawasan Imogiri di Kabupaten Bantul, Yogyakarta, menempati posisi unik dalam peta sejarah Nusantara. Dikenal luas sebagai situs sakral pemakaman raja-raja Mataram Islam (Pajimatan Imogiri) yang dibangun oleh Sultan Agung Hanyokrokusumo sejak pertengahan abad ke-17, Imogiri nyatanya juga menjadi urat nadi penting bagi penyebaran gerakan modernisme Islam. Pertemuan antara tatanan masyarakat yang kental dengan tradisi Mataram dengan gagasan tajdid (pembaruan) dari Muhammadiyah menciptakan dialektika sejarah yang sangat menarik.
Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Imogiri merupakan salah satu cabang historis yang membuktikan keberhasilan transformasi dakwah persyarikatan. Dari sekadar majelis pengajian kecil di era kolonial, PCM Imogiri kini telah tumbuh menjadi pilar kemandirian umat dengan jejaring Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) di bidang pendidikan, kesehatan, hingga kaderisasi ulama tingkat kapanewon (kecamatan).
Akar Historis Dakwah di Lingkar Keraton (Era 1910-1920-an)
Jejak awal dakwah Muhammadiyah di Imogiri tidak bisa dilepaskan dari kepiawaian K.H. Ahmad Dahlan dalam merajut komunikasi. Pascaberdiri pada 1912 di Kauman, ideologi Muhammadiyah tentang purifikasi (pemurnian ajaran Islam dari tahayul, bid’ah, dan khurafat) serta aksi sosial pembebasan kaum mustadhafin (kaum tertindas/dhuafa) cepat menyebar ke luar jero beteng (dalam keraton).
Imogiri—sebagai wilayah dengan intensitas interaksi kultural yang tinggi dengan pusat keraton—menjadi salah satu lokasi prioritas, bersama dengan Srandakan dan Wonosari. Para pedagang, abdi dalem, dan guru-guru ngaji asal Imogiri yang kerap berinteraksi dengan saudagar Kauman menjadi agen intelektual (mubaligh) pertama yang membawa pulang ide-ide K.H. Ahmad Dahlan. Dakwah di era ini sangat berhati-hati; pendekatannya adalah kultural namun rasional, perlahan meluruskan praktik-praktik mistis masyarakat sekitar makam raja tanpa harus memicu konflik sosial terbuka.
Era Pelembagaan dan Ekspansi Pendidikan (1960-an – 1980-an)
Memasuki periode kemerdekaan hingga awal Orde Baru, Muhammadiyah Imogiri mulai melakukan konsolidasi institusional secara formal. Di era ini, dakwah lisan (bil lisan) mulai bergeser pada pembangunan monumen karya nyata (bil hal), khususnya di sektor pendidikan.
Fakta Sejarah: Kesadaran akan minimnya guru yang memiliki basis keislaman yang kuat mendorong Muhammadiyah Imogiri mengambil langkah berani dengan mendirikan lembaga pencetak tenaga pendidik.
Pada tahun 1968, berdirilah Sekolah Pendidikan Guru (SPG) Muhammadiyah Imogiri. Keputusan ini menjadi tonggak emas, menjadikan Imogiri sebagai salah satu pusat suplai guru-guru Islami di Yogyakarta. Seiring perubahan kebijakan nasional tentang kependidikan, pada tanggal 28 Februari 1989 [cite: 1.1.5], SPG ini resmi dialihfungsikan menjadi Sekolah Teknologi Menengah (STM)—yang kini dikenal sebagai kebanggaan masyarakat Bantul, yaitu SMK Muhammadiyah Imogiri.
Pusat Keunggulan Inklusif: Pendidikan Vokasi hingga Kesehatan (2000-an – Sekarang)
Di abad ke-21, di bawah estafet kepemimpinan tokoh-tokoh lokal pencerah, PCM Imogiri merumuskan grand design “Gerakan Pencerahan Menuju Imogiri Berkemajuan”.
- Pengembangan Vokasi Unggulan: SMK Muhammadiyah Imogiri kini menjelma menjadi sekolah percontohan. Pada tahun 2008, mereka membuka program terobosan seperti Kimia Industri [cite: 1.1.2], melengkapi jurusan Otomotif dan Tata Busana [cite: 1.1.2]. Sekolah ini memegang akreditasi “A” (sejak 2017) dan aktif berkolaborasi dengan dunia industri nasional, seperti Wuling Motors.
- Melahirkan Ulama Intelek: Menyadari krisis kader ulama persyarikatan, pada hari Jumat, 28 Mei 2021, PCM Imogiri dengan dukungan Pimpinan Daerah mencetak sejarah dengan meresmikan Pondok Pesantren Yapitu Abdul Alim Muhammadiyah Imogiri [cite: 2.2.1].
- Ekspansi Layanan Kesehatan (PKU): Tak berhenti di pendidikan, PCM Imogiri mewujudkan impian panjang mendirikan Amal Usaha Kesehatan [cite: 2.1.3]. Lahirnya Klinik Pratama Rawat Inap PKU Muhammadiyah Imogiri membuktikan visi Al-Ma’un tidak pernah pudar, memberikan layanan prima bagi masyarakat secara inklusif tanpa memandang latar belakang sosial dan agama.
Di akar rumput, kohesi jamaah dijaga sangat erat oleh ranting-ranting (seperti Pimpinan Ranting Muhammadiyah Selopamioro) melalui Pengajian Ahad Kliwon dan Pengajian Selapanan Ahad Pon yang senantiasa dihadiri ribuan jamaah.
Timeline Detail Sejarah Muhammadiyah PCM Imogiri
-
1910-an s.d 1920-an: Fase Inkubasi Dakwah Kultural
Gagasan pembaruan Islam K.H. Ahmad Dahlan meresap ke wilayah Imogiri. Terjadi interaksi antara mubaligh Kauman dengan tokoh-tokoh penggerak Imogiri, memulai dakwah tahsinul aqidah di pinggiran kompleks makam raja-raja Mataram. -
1968: Pendirian SPG Muhammadiyah Imogiri
Berdirinya Sekolah Pendidikan Guru (SPG) Muhammadiyah Imogiri. AUM Pendidikan pertama yang strategis ini didirikan untuk menjawab krisis guru bernapas Islam di Kabupaten Bantul pada masa transisi Orde Lama ke Orde Baru. -
28 Februari 1989: Transformasi SPG ke STM/SMK
Merespons regulasi pemerintah terkait rasionalisasi lembaga pendidikan guru, SPG Muhammadiyah secara resmi beralih fungsi menjadi Sekolah Teknologi Menengah (STM). Langkah ini menjadi embrio SMK Muhammadiyah Imogiri. -
2005 – 2008: Modernisasi AUM Pendidikan
SMK Muhammadiyah Imogiri berkembang pesat, membuka jurusan Kimia Industri pada tahun 2008 guna menjawab kebutuhan tenaga vokasi industri modern di D.I. Yogyakarta [cite: 1.1.2]. -
2016: Deklarasi “Imogiri Berkemajuan”
Melalui Musyawarah Cabang (Musycab) bersama PCM-PCA Imogiri, persyarikatan mendeklarasikan cetak biru pergerakan era modern yang berfokus pada kemandirian AUM sosial-kesehatan dan kaderisasi jamaah akar rumput. -
28 Mei 2021: Peresmian Ponpes Yapitu Abdul Alim
Merespons kebutuhan kader ulama mumpuni, PCM dan PDM Bantul secara resmi mengesahkan operasional Pondok Pesantren Yapitu Abdul Alim Muhammadiyah Imogiri. -
Era 2022 – Sekarang: Berdirinya PKU Imogiri & Kuatnya Tradisi Kultural
Pencapaian luar biasa PCM Imogiri adalah berdirinya Klinik Pratama Rawat Inap PKU Muhammadiyah Imogiri [cite: 2.1.3]. Di sisi lain, Muhammadiyah kultural semakin kuat dengan masifnya Pengajian Selapanan Ahad Pon dan Ahad Kliwon yang dikawal langsung oleh berbagai level kepemimpinan ranting.
Kesimpulan
Dari sejarahnya, Pimpinan Cabang Muhammadiyah Imogiri bukan sekadar cabang administratif, melainkan episentrum peradaban modernisme Islam di kawasan perbukitan selatan Bantul. Kemampuannya mendialogkan ajaran Islam murni dengan kearifan lokal masyarakat, disusul dengan kemandirian di bidang pendidikan (SMK/SLB), kaderisasi (Ponpes), dan kesehatan (Klinik PKU), menjadikan PCM Imogiri role model bagi cabang Muhammadiyah lainnya di penjuru Nusantara.